Lo pernah nggak sih, abis liburan bareng teman-teman, bukannya segar malah tambah capek? Jadwal padat dari pagi sampai malam, harus foto di spot aesthetic, rebutan kamera, dan yang paling berat: harus asyik 24 jam.
Padahal, kadang lo cuma pengen duduk santai, ngopi, dan ngobrol ngalor-ngidul tanpa beban.
Nah, Maret 2026 ini, ada tren liburan yang lagi naik daun dan mungkin jawaban dari kebosanan lo: “mum trips” atau liburan bareng ibu. Bukan cuma tren, tapi ini gerakan sadar dari anak muda yang lelah sama “liburan ekstrem” bareng teman.
Data dari Manchester Airport nunjukkin bahwa 25% anak muda Inggris memilih traveling bareng ibu daripada bareng teman atau pasangan . Dan alasannya? Liburan bareng ibu 38% lebih santai. Angka ini bukan isapan jempol, tapi hasil pengamatan tren di industri travel global .
Bukan Sekadar ‘Lebih Santai’, Tapi ‘Bebas Ekspektasi’
Gue jelasin simpel. Liburan bareng teman, seasyik apapun, selalu ada tekanan sosial yang nggak tertulis:
- Harus开心 terus, kalau diem dianggap “nggak asyik”
- Harus setuju sama rencana orang lain, kalau nggak dibilang “susah”
- Harus tampil oke di setiap foto, karena semuanya bakal di-post
- Harus punya cerita seru pas pulang, biar nggak kalah sama yang lain
Ini yang gue sebut “beban ekspektasi”. Dan beban ini, pelan-pelan tapi pasti, bikin liburan jadi kerjaan baru.
Liburan bareng ibu? Bebas semua itu.
Ibu nggak akan protes kalau lo mau rebahan di hotel seharian. Ibu nggak akan judge kalau lo pilih makan di warteg pinggir jalan. Ibu nggak bakang nuntut lo buat foto aesthetic tiap jam. Yang ada, ibu malah khawatir: “Kamu udah makan belum?” atau “Istirahat yang cukup, nak.”
Di situlah letak “38% lebih santai” itu. Bukan karena destinasinya, tapi karena nggak ada tekanan buat tampil sempurna. Lo bisa jadi diri lo sendiri.
Tiga Alasan Mum Trips Jadi Tren
Dari berbagai sumber dan pengamatan, gue rangkum tiga alasan utama kenapa anak muda sekarang milih liburan bareng ibu.
1. Ibu Adalah Sahabat Paling Tulus
Di tengah hiruk-pikuk pertemanan digital yang sering abu-abu, ibu jadi satu-satunya orang yang nggak punya kepentingan. Nggak ada gengsi, nggak ada persaingan, nggak ada drama.
Pas liburan bareng ibu, lo bisa cerita apa aja. Tentang kerjaan yang bikin stres, tentang hubungan yang rumit, tentang mimpi-mimpi lo yang mungkin belum tercapai. Dan ibu bakal dengerin, tanpa menghakimi, tanpa memotong, tanpa buru-buru ngasih saran yang nggak lo minta.
Dalam psikologi, ini yang disebut “secure base” —tempat lo bisa kembali dan merasa aman setelah menjelajah dunia. Dan nggak ada yang bisa jadi secure base selain ibu.
2. Ritme Liburan yang Fleksibel
Liburan bareng teman sering kaku karena harus kompromi terus. Lo pengennya ke museum, temen lo pengennya ke mall. Lo pengen cobain kuliner lokal, temen lo pengennya makan di restoran cepat saji. Hasilnya? Mutusin di tengah, atau salah satu harus ngalah.
Liburan bareng ibu? Ibu biasanya ngikut aja. “Terserah kamu, yang penting kamu seneng.” Kalau lo pengen ganti rencana di tengah jalan, ibu nggak akan ngomel. Kalau lo pengen berhenti di tempat random karena pemandangannya bagus, ibu akan ikut senang.
Fleksibilitas ini bikin liburan terasa ringan. Nggak ada beban harus ngejar itinerary.
3. Kesempatan Reconnect di Tengah Kesibukan
Generasi milenial dan Gen Z hidup di era sibuk. Kerja, nge-gym, ketemu temen, urusan administrasi—semuanya serba cepat. Ibu sering jadi prioritas terakhir karena “masih ada waktu”.
Tapi sadar nggak sadar, waktu itu makin menipis. Liburan bareng ibu jadi momen emas buat reconnect. Bukan cuma ngobrol soal hal-hal besar, tapi juga soal hal-hal kecil yang selama ini terlewat.
Di perjalanan, lo bakal denger cerita-cerita lama yang mungkin belum pernah lo denger: masa muda ibu, perjuangan dia, mimpi-mimpi yang dia pendam. Dan lo juga bisa cerita tentang hidup lo sekarang, dengan bahasa yang mungkin baru bisa lo ucapkan setelah dewasa.
Tiga Studi Kasus: Liburan yang Mengubah Hubungan
Gue kasih tiga contoh nyata biar lo makin paham.
1. Dinda, 27 Tahun: Dari Canggung Jadi Dekat
Dinda punya hubungan yang biasa aja sama ibunya. Nggak renggang, tapi juga nggak terlalu dekat. Komunikasi seperlunya. Suatu hari, dia ngajak ibunya liburan ke Yogyakarta. Cuma berdua.
“Awalnya kikuk banget. Nggak tahu harus ngomong apa. Tapi di hari kedua, pas lagi nunggu hujan reda di sebuah kafe, ibu tiba-tiba cerita soal masa mudanya. Soal bagaimana dia bertemu bapak, soal mimpi jadi guru yang sempat tertunda. Gue nangis, karena baru tahu sisi lain ibu yang selama ini tersembunyi di balik perannya sebagai ‘ibu rumah tangga’. Liburan itu nggak cuma healing buat gue, tapi buat hubungan kami.”
2. Raka, 32 Tahun: Quality Time yang Nggak Pernah Ada
Raka sibuk banget. Kerja di startup, lembur tiap hari, komunikasi sama ibu cuma lewat telepon singkat. Akhirnya dia memutuskan buat ngajak ibunya ke Bali. Bukan liburan mewah, tapi quality time.
“Gue kaget, ibu ternyata masih punya semangat buat jalan-jalan. Dia seneng banget liat pantai, liat matahari terbenam. Di situ gue sadar, ibu udah tua dan waktu kami nggak banyak. Liburan itu jadi momen berharga yang nggak akan tergantikan.”
3. Sari, 24 Tahun: Healing dari Toxic Friendship
Sari baru aja keluar dari lingkaran pertemanan yang toxic. Dia capek dengan drama dan tekanan. Ibunya ngajak liburan ke Bandung, naik kereta, cuma berdua.
“Di kereta, ibu nggak banyak nanya. Dia cuma dengerin. Pas gue nangis, dia elus kepala gue. Sederhana, tapi itu lebih berharga dari seribu kata-kata motivasi. Di Bandung, kami jalan santai, makan di tempat sederhana, nggak ada target foto. Gue pulang dengan perasaan ringan, kayak beban yang selama ini nempelin gue lepas.”
Data: Tren Mum Trips di Berbagai Negara
Fenomena mum trips ini ternyata global.
- 25% anak muda Inggris memilih traveling bareng ibu daripada bareng teman atau pasangan .
- Manchester Airport mencatat kenaikan signifikan pencarian tiket untuk dua orang dengan rentang usia beda jauh (40-50an dan 20-30an) menjelang Mother’s Day .
- Destinasi favorit buat mum trips di Eropa termasuk Montecatini Terme (Italia), Italian Lakes, Danube river cruise, Zurich, Bordeaux, dan bahkan Las Vegas untuk yang lebih adventurous .
Di Indonesia, walaupun belum ada data resmi, tren ini juga terlihat. Tiket kereta api dan pesawat untuk dua orang dengan usia beda generasi makin banyak dicari. Destinasi kayak Yogyakarta, Bandung, Bali, dan Malang jadi favorit.
3 Kesalahan Umum yang Sering Dilakukan (Common Mistakes)
Nah, ini penting. Liburan bareng ibu itu indah, tapi bisa jadi bencana kalau salah strategi. Catat poin-poin ini.
1. Lupa Kondisi Fisik Ibu
Lo mungkin sanggup jalan 10 km sehari, naik turun tangga, dan begadang. Tapi ibu lo beda. Jangan sampe liburan jadi siksaan karena lo maksa ibu ngikutin ritme lo.
Solusi: Sesuaikan itinerary dengan kondisi fisik ibu. Selingi dengan banyak waktu istirahat. Pilih akomodasi yang nyaman dan aksesibel. Jangan pelit buat naik taksi atau transportasi umum yang nyaman.
2. Terlalu Banyak Rencana, Kurang Waktu Santai
Liburan bareng ibu itu bukan kompetisi “siapa yang bisa kunjungi tempat paling banyak”. Justru kebalikannya. Ibu biasanya lebih suka santai, ngobrol, dan menikmati suasana.
Solusi: Bikin jadwal longgar. Sisipin “waktu kosong” di setiap hari. Ini berguna buat istirahat, atau buat eksplorasi spontan kalau ada yang menarik.
3. Lupa Komunikasi Soal Budget
Ini sensitif. Ibu mungkin nggak enakan kalau lo yang bayarin semua. Tapi kalau lo nggak ngomong dari awal, bisa jadi salah paham.
Solusi: Bicarakan budget sejak awal. Jelasin dengan santai: “Ma, ini liburan traktiran aku buat Mama. Jadi nggak usah mikirin apa-apa.” Atau kalau sistem patungan, jelasin pembagiannya. Yang penting komunikasi.
Tips Praktis Buat Lo yang Mau Coba Mum Trips (Actionable Tips)
1. Pilih Destinasi yang “Ibu-Friendly”
Nggak semua destinasi cocok buat ibu. Hindari tempat yang butuh banyak jalan kaki ekstrem, medan berat, atau suasana terlalu ramai. Pilih destinasi dengan:
- Akses mudah
- Banyak tempat duduk dan istirahat
- Pilihan kuliner yang sesuai selera ibu
- Pemandangan indah yang bisa dinikmati sambil duduk
2. Libatkan Ibu dalam Perencanaan
Ini kunci bonding. Tanya ibu, “Mama pengen ke mana? Pengen ngapain?” Libatkan dia dalam milih hotel, milih restoran, milih aktivitas. Dengan begitu, liburan terasa milik berdua, bukan cuma “lo yang ngatur, ibu nurut”.
3. Siapkan Dana Lebih
Liburan bareng ibu mungkin butuh budget lebih besar karena:
- Ibu mungkin nggak bisa sharing cost
- Butuh akomodasi lebih nyaman
- Butuh transportasi lebih praktis
Tapi inget, ini investasi hubungan. Hasilnya nggak ternilai.
4. Dokumentasi, Tapi Jangan Berlebihan
Foto itu penting buat kenangan. Tapi jangan sampe lo sibuk moto mulu sampe lupa menikmati momen. Ambil beberapa foto bagus, lalu simpan HP, dan hadir sepenuhnya.
5. Siapin Obat-obatan dan Kebutuhan Ibu
Jangan lupa bawa obat rutin ibu, vitamin, dan kebutuhan khusus lainnya. Lebih baik bawa dari rumah daripada nyari di tempat tujuan. Juga, sedia “emergency kit” sederhana: obat pusing, obat mual, plester, minyak kayu putih.
Kesimpulan: Lebih dari Sekadar Liburan
Mum trips bukan sekadar tren liburan biasa. Ini adalah respons generasi milenial dan Gen Z terhadap krisis waktu dan krisis koneksi yang mereka alami. Di tengah dunia yang makin cepat dan superfisial, liburan bareng ibu jadi oase: tempat di mana lo bisa berhenti, bernapas, dan menjadi diri sendiri tanpa topeng.
Angka 38% lebih santai itu masuk akal. Karena dengan ibu, nggak ada ekspektasi yang must dipenuhi. Nggak ada standar yang must diraih. Yang ada cua penerimaan tanpa syarat.
Seperti kata seorang traveler: “Ibu adalah satu-satunya orang yang bisa lo ajak liburan tanpa perlu khawatir dibilang membosankan.”
Jadi, lo udah punya rencana buat mum trips tahun ini? Atau masih mikir-mikir sambil liat jadwal kerja yang padat? Coba sisihin waktu. Ibu lo mungkin nggak akan minta, tapi percayalah, dia akan sangat menghargai waktu berkualitas itu.
Gimana, lo siap ngajak ibu liburan?
